Thursday, December 14, 2017

Remaja Dalam Dilema: Antara Pacaran dan Ta’aruf

Antara Pacaran dan Ta’aruf: Ketika Remaja Dihadapkan Pilihan

Saat mulai menginjak usia remaja, seseorang akan mulai dihadapkan pada perbedaan lawan jenis yang terkadang menimbulkan ketertarikan secara khusus. Rasa mennyukai atau mencintai seseorang bagi para remaja tentu lumrah adanya. Biasanya, bila rasa itu mulai muncul seorang remaja akan menunjukkan berbagai perubahan perilaku seperti senyum-senyum sendiri, sering melamun, memandang foto sang pujaan hati, hingga mengungkapkan perasaan dengan gamblang dan kemudian menjalin kasih atau yang biasa disebut pacaran.

antara pacaran atau ta'aruf
sumber: guetau.com

Dalam budaya kita, menjalin kasih atau pacaran sudah menjadi sesuatu yang sangat lumrah dewasa ini. Orang tua akan dengan senang hati melepas anak gadisnya ke luar rumah bersama sang kekasih bila si pria bersikap cukup sopan. Tetapi sejatinya, adakah istilah pacaran dalam Islam? Bagaimanakah Islam memandang jalinan kasih antara pria dan wanita? Apakah berpacaran sama dengan berta’aruf?

Islam telah dengan sangat bijak mewadahi rasa cinta kasih yang tumbuh dalam hati seorang hamba melalui sebuah ikatan resmi bernama pernikahan. Dalam ikatan pernikahan akan timbul ketenangan lahir dan batin yang mempengaruhi nilai ibadah seseorang.

Pertanyaan selanjutnya tentu, bagaimana seseorang dapat menikah tanpa melewati masa pacaran?

Pacaran yang dalam bahasa Inggris disebut dating merupakan sebuah proses untuk mengenal kepribadian seseorang secara lebih dekat karena adanya suatu ketertarikan khusus. Sama halnya, taaruf merupakan sebuah proses untuk mengenal seorang calon sebelum proses khitbah atau lamaran diajukan. Yang membedakan antara pacaran dan ta’aruf ada pada pelaksanaannya. Seseorang yang berpacaran biasanya bebas bertemu, berjalan berdua, dan menjalin kontak fisik dalam batasan yang ditentukan oleh masing-masing pihak.

Sedangkan dalam taaruf, seorang pria dan wanita biasanya dikenalkan oleh seorang perantara. Kemudian si perantara akan menetukan waktu dan tempat bagi kedua calon untuk mengobrol dan bertatap muka secukupnya dengan ditemani oleh sang perantara. Dalam proses taaruf biasanya akan terjadi penjelasan latar belakang dan visi masa depan untuk menikah secara ringkas dan jelas. Tentu saja proses ta’aruf tidak akan berhenti dalam pertemuan kilat itu saja. Sang calon bisa bertukar nomor agar dapat berkomunikasi bila ada hal-hal yang ingin ditanyakan lebih lanjut. Saat keduanya menemukan kemantapan hati proses khitbah mulai bisa dilaksanakan dan kemudian berlanjut pada akad nikah.

Kedengarannya sangat formal dan kaku bukan? Hal ini tentu saja bertujuan untuk melindungi kehormatan kedua calon dan menjaga mereka dari perbuatan maksiat akibat berduaan. Selain itu, ta’aruf tentu memiliki tujuan yang lebih jelas dari sekadar berkisah-kasih dan mempermainkan perasaan seseorang. Anda siap berta’aruf?
(wallahu a’lam bisshowab)