Friday , November 16 2018
Home / Inspirasi / Sosok / Berburu Beasiswa Fulbright: Salah Satu Beasiswa Paling Bergengsi di Dunia!

Berburu Beasiswa Fulbright: Salah Satu Beasiswa Paling Bergengsi di Dunia!

Beasiswa Fulbright: Lulusannya diakui oleh Dunia, Proses Pendaftarannya Tak Bisa Main “Kebut Semalam”!

Wawancara bersama Yustika Sari (salah satu penerima beasiswa Master Fulbright di Ohio University Amerika)

Bagi Anda para pemburu beasiswa luar negeri pasti sudah tidak asing lagi dengan beasiswa Fulbright. Salah satu beasiswa paling bergengsi di dunia ini memang tak main-main dalam menyeleksi para calon penerima-nya. Dari sekian banyak pelamar, hanya beberapa orang yang diterima. 

beasiswa fullbright
Yustika Sari bersama para kawan di depan Ohio Univeristy

Yustika Sari, satu dari sekian penerima beasiswa Fulbright ini adalah wanita asli Pamekasan, Madura, Indonesia. Alumni S1 Sastra Inggris Universitas Negeri Malang ini telah menyelesaikan program master-nya di Ohio University Amerika. Tak tanggung-tanggung, selain mengambil jurusan Applied Linguistic, wanita yang hobi mendengarkan musik ini juga ternyata sekaligus berhasil mendapatkan TEFL Certificate yang setara dengan program D1. Hmm, Apa saja tips yang bisa Anda lakukan untuk bisa lolos menjadi penerima beasiswa idaman ini? berikut hasil wawancara gendies.com:

gendies.com: Halo, mb Yustika. Apa kabar?

Yustika Sari: Halo, kabar baik. Alhamdulillah.

gendies.com: Bisa Anda ceritakan sedikit awal mula hingga Anda mendapatkan beasiswa tersebut?

Yustika Sari: Setelah menyelesaikan studi S1 saya, saya mulai menjadi ‘a scholarship hunter.’ Saya mencoba berbagai macam beasiswa yg ada, mulai dari ADS (sekarang Australian Award), Dikti, dan Endeavour. Alhamdulillah di tahun 2012 saya mendapat beasiswa Unggulan Dikti ke Adelaide University. Namun, karena masalah birokrasi internal Dikti, saya memutuskan meninggalkan kesempatan ini. Setahun berikutnya, saya mencoba melamar beasiswa Fulbright. Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos setelah melalui tahap awal (dokumen) dan interview, yang nantinya dilanjutkan dengan test IBT & GRE untuk mendaftarkan kita ke Universitas di Amerika.

gendies.com: Dimana Anda menyelesaikan S2 Anda?

Yustika Sari: Saya menyelesaikan S2 saya di Ohio University, USA.

gendies.com: Jurusan apa yang Anda ambil?

Yustika Sari: Saya mengambil jurusan Applied Linguistics untuk S2 saya. Saya juga mengambil TEFL certificate (setara dengan diploma) bersamaan dengan program S2 saya.

gendies.com: Berapa lama Anda menyelesaikan S2 Anda?

Yustika Sari: Saya menyelesaikan program saya 2 tahun, sesuai dengan lama program itu sendiri.

gendies.com: Apa kendala yang paling Anda rasakan ketika menyelesaikan S2 Anda di sana?

Yustika Sari: Sebenarnya itu bukan kendala, tapi hanya sebuah perbedaan dalam sistem pendidikan dan budaya yg berbeda dan saya harus bisa menyesuaikan. Sistem pendidikan di sana lebih mementingkan implementasi dari setiap apa yang kita pelajari, sedangkan di Indonesia saya terbiasa dengan metode hafalan. Selain itu, setiap hari beban tugas di sana cukup berat dimana setiap dosen untuk setiap mata kuliah membebani kita dengan beberapa bahan bacaan yang harus sudah dipahami sebelum masuk kelas. Berbagai macam laporan berupa critical thinking pun menjadi sebuah hal yang membuat saya cukup ‘struggling’ di sana.

Mengenai beasiswa Fulbright,

gendies.com: Kapan beasiswa ini dibuka untuk pendaftaran? Adakah bulan khusus tiap tahunnya?

Yustika Sari: Beasiswa Fulbright dibuka setiap tahun dengan annual deadline 15 April.

gendies.com: Berapa lama prosesnya (mulai dari pendaftaran hingga pencairan dana)?

Yustika Sari: Total proses memakan waktu hampir 1 tahun sampai kita benar benar berangkat ke Amerika. Hal ini dikarenakan berbagai macam tahapan yang harus kita lalui.

gendies.com: Tahapan apa saja yang harus dilalui pelamar?

Yustika Sari:

1. Dokumen. Meliputi application form, 1 halaman study objective, TOEFL minimal 550, surat rekmendasi jika ada)

2. Interview. Interview biasanya dilakukan di kota yang dekat dengan kota tinggal peserta. Mulai dari tahap ini semua biaya (transportasi dsb) ditanggung pihak Aminef.

3. TOEFL IBT.

4. GRE (General/specific) atau GMAT.  TOEFL IBT dan GRE digunakan unutk mendaftarkan kita ke univeristas- universitas di Amerika. Kita akan diminta untuk memberi 4 (untuk s2) atau 6 (untuk s3) univeritas pilihan kita di Amerika. Aminef bekerja sama dengan IIE akan mendaftarkan kita. Jika nilai kita kurang, kita kemungkinan akan diminta mengambil test ulang. Biaya akan ditanggung Aminef. Tapi kita hars berhati-hati, tidak mendapatkan univeritas tujuan bisa berarti beasiswa kita akan ‘melayang’.

5. Visa.

6. Pencairan Dana

7. Tiket dan keberangkatan.

gendies.com: Apa poin penting yang menentukan keberhasilan pelamar?

Yustika Sari: Poin paling penting adalah study objective kita. Oleh karena itu, kita harus benar benar meluangkan waktu untuk menulisnya. Ikuti guideline pertanyaan yang sudah tercantum dalam application form Fulbright.

gendies.com: Apa keistimewaan beasiswa ini?

Yustika Sari: Beasiswa Fulbrigth adalah salah satu beasiswa paling bergengsi di dunia dan disponsori oleh the United States Department of State, Bureau of Educational and Cultural Affairs. Beasiswa ini sangat kompetitif dan lulusannya sudah diakui oleh dunia. Fulbrighter juga akan mendapatkan kesempatan yang sangat luas baik selama masa studi (seminars/internship) dan setelah menjadi alumni (alumni network/kesempatan kerja).

gendies.com: Apakah beasiswa ini mampu mencukupi semua kebutuhan penerima beasiswa selama studi?

Yustika Sari: Ya. Beasiswa ini akan mencover semua biaya. Bahkan nulai dari tahap Interview semua biaya akan ditanngung. Di Amerika nantinya kita akan mendapat settlement allowance (awal kita di sana), monthly allowance, book allowance, computer allowance. Asuransi kesehatan juga akan ditanggung. Jadi tidak perlu khawatir. Yang harus diingat Fulbright tidak menyediakan allowance tambahan untuk anggota keluarga.

Untuk boleh/tidaknya bekerja juga sangat restricted. Kita hanya diperbolehkan bekerja di pekerjaan yang berkaitan dengan studi kita (misal menjadi Teaching Assistant dsb). Kita juga harus mengurus perubahan nomor pajak kita dari ITIN menjadi SSN. Untuk beberapa kasus, montly allowance kita juga kana terpotong karena kita mendapatkan gaji tambahan. Jadi intinya bekerja selama menjadi Fulbrighter hanya untuk mencari pengalaman.

gendies.com: Apa hal atau peristiwa yang paling berkesan selama proses mendapatkan beasiswa Fulbright ini atau selama studi Anda di sana?

Yustika Sari: Salah satu hal yang paling berkesan aalah di masa awal Fulbrighter sampai di Amerika, kita akan mendapatkan pembekalan (Pre-Academic Program) selama 1- 4 minggu; saya sendiri selama 3 minggu di Arizona University. Di sana saya bertemu Fulbrighter dari berbagai macam negara. Kita mendapatkan pembekalan akademik, budaya, dan sosial. Kita juga diajak berwisata ke berbagai tempat tempat menarik di State tersebut dan bahkan diundang dinner dengan warga lokal. Sebuah pengalaman yang sangat menarik dan berkesan.

gendies.com: Bisakah Anda berbagi tips untuk mereka yang juga sedang berburu beasiswa luar negeri, khususnya fulbright?

Yustika Sari: Persiapkan pendaftaran beasiswa jauh jauh hari sebelumnya. Masuk ke website beasiswa yang kita incar dan kenali visi dan misi beasiswa itu sendiri. Hal ini sering diabaikan oleh para pencari beasiswa, padahal hal ini sangat penting karena nantinya akan berkaitan dengan bagaimana kita menyusun study objective kita. Menulis study objective itu sendiri tidak bisa hanya dikerjakan ‘kebut semalam’. Setelah kita selesai menulis, cobalah meminta bantuan orang lain untuk proofread tulisan kita (lebih baik jika dia adalah seorang alumni beasiswa itu sendiri atau seorang native speaker. Selain itu, ketahui juga tentang persyaratan bahasa yang dibutuhkan: IELTS, TOEFL IBT, GRE, sehingga kita bisa memiliki waktu yang cukup untuk belajar.

gendies.com: Dengan semua pengalaman yang sudah Anda peroleh, apa ada rencana untuk kembali melanjutkan studi di luar negeri?

Yustika Sari: Tentu saja. Tapi untuk saat ini saya ingin sekali mengikuti program TEFL baik seminar/conference/short course. Saya ingin sekali mengembangkan kemampuan saya dalam mengajar, bertemu dengan pengajar dari berbagai macam negara dan saling bertukar pengalaman serta mengenal budaya asing. Semua ini berkaitan dengan mimpi saya untuk bisa menjadi TEFL pengajar professional di luar negeri. Amin.

gendies.com: Terakhir, adakah pesan khusus untuk mereka yang sedang berjuang mendapatkan beasiswa?

Yustika sari: Terus berusaha. Perjuangan itu proses dan tidak bisa kita dapatkan dengan mudah. Kegagalan yang kita dapatkan seharusnya dijadikan pelajaran untuk terus memperbaiki hal yang kurang. Satu hal lagi, benar benar pahami visi dan misi dari beasiswa yang kita inginkan.

Jadi, bagaimana menurut Anda? menjadi lebih bersemangat untuk mengejar beasiswa luar negeri impian Anda? Yang terpenting, terus berjuang dan lakukan usaha terbaik Anda. Seperti motto hidup wanita berkacamata yang manis ini Just Do the Best! Let God Do the Rest!

Jika ingin kenal lebih jauh dengan Mb Yustika Sari, Anda bisa langsung kungjungi blog-nya di sini atau di sini. Selamat berburu beasiswa! Semoga berhasil!

Baca juga: Tinggal di Luar Negeri: Susah Senang dan Berbagai Cerita Unik

About Junda Y

Mantan solo traveler yang masih bermimpi keliling dunia. Full time ibu rumah tangga yang bekerja sampingan menjadi penulis dan editor di gendies.com dan penerjemah lepas. Ingin berbagi tentang warna warni dunia dengan semua wanita Indonesia. ~ Dunia ini bisa jadi memang panggung sandiwara, jadi nikmati dan hayati saja peran Anda. Mari berbahagia :D