Wednesday, December 13, 2017

Cara Mendapatkan Beasiswa Fulbright: Fokus pada Passion dan Konsisten!

Kuliah Kelar, Jalan-Jalan Lancar (Tips Cara Mendapatkan Beasiswa Fulbright)

Wawancara bersama Siti Juwariyah (Salah satu penerima Beasiswa Fulbright dan pecinta Traveling)

Berburu beasiswa dan menyelesaikan pendidikan di luar negeri cenderung identik dengan segala hal yang berbau serius dan akademik. Hal ini bukan tanpa alasan. Apalagi, jika beasiswa yang sedang diincar adalah beasiswa bergengsi dunia. Segala cara mendapatkan beasiswa akan diusahakan. Belajar dengan serius agar bisa lulus tes demi tes, pasti menuntut para pelamar untuk bekerja lebih keras dari biasanya.

cara mendapatkan beasiswa fullbright
Road trip ke Colorado

Sebagai salah satu penerima beasiswa Fulbright, Siti Juwariyah, ternyata mampu membuat kesan serius para penerima beasiswa menjadi lebih ceria dan berwarna. Wanita asli Lumajang yang menggemari masakan ibunya ini, berbagi sedikit kisah tentang pengalaman studi Master-nya di Amerika sekaligus serunya petualangan selama melakukan travelling di sana. Bagaimana kisah selengkapnya? Simak berikut ini:

gendies.com :Halo, mb Juwa. Apa kabar?

Mb Juwa: Hola, alhamdulillah baik.

gendies.com: Sebagai salah satu penerima beasiswa Fulbright yang paling diincar pemburu beasiswa seluruh dunia, bisa Anda ceritakan sedikit awal mula hingga Anda mendapatkan beasiswa tersebut?

Mb Juwa: Awal mulanya, saya kerja di LC UMM. Alhamdulillah dipertemukan dengan orang2 yang semangat berjuang mendapatkan beasiswa ke luar negeri dan saya jadi ketularan nyoba apply juga dan alhamdulillah beruntung diterima.

gendies.com: Dimana Anda menyelesaikan S2 Anda?

Mb Juwa: University of Arizona.

gendies.com: Jurusan apa yang Anda ambil?

Mb Juwa: English as a Second Language, semacam TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages).

gendies.com: Berapa lama Anda menyelesaikan S2 Anda?

Mb Juwa: 2 tahun, lebih tepatnya 21 bulanan.

gendies.com: Nah, yang saya tau, Anda sangat suka travelling. Bahkan hampir semua isi akun instagram Anda tentang tempat-tempat yang Anda kunjungi. Saat Anda di Amrik, Anda tidak merasa takut melakukan traveling? Padahal itu kali pertama Anda datang ke sana bukan? 😀

Mb Juwa: Hmm…Mungkin awalnya takut, saya tidak yakin, tapi selama di US saya merasa aman-aman saja. Suasananya mendukung untuk bisa mandiri dan menavigasi perjalanan sendiri. Visitor center dimana-mana. Peta tersedia. Orang-orang juga gak ganggu. They mind their own business. They either help or stay away. Lagian kan Tuhan dimana-mana, saya berdoa saja semoga dilindungi. Toh saya gak ada niatan buruk jadi ya insyaAllah orang-orang gak akan jahat sama saya. Saya yakinnya sih gitu. (Kalau ada pengalaman buruk berarti itu ujian atau lagi apes aja. Haha)

gendies.com: Bagaimana tanggapan orang-orang yang Anda temui (selama traveling) terhadap pakaian Anda? (khususnya jilbab)?

Mb Juwa: Biasa aja. Paling mereka cuma ngelihatin. Ya mungkin karena gak biasa. Sama aja kan kayak di Indonesia kalau ada cewek pakaian mini atau pakai bikini cenderung dilihatin karena “gak biasa”. Ada juga yang ramah ngajak ngobrol, nanya-nanya. Ada juga yang bisa nebak saya dari Indonesia (kadang Malaysia) dari style jilbab saya. It’s fun. Dan, ugh, sebenernya seneng. Pernah pas ngetrip di Colorado, pelayannya nunjukin menu yang gak ada babinya, karena dia mikir saya ini Muslim dan dia tahu Muslim gak makan babi, so it helps. Dan teman-teman international juga demikian, pasti tanya-tanya dan ngasih tahu tentang makanan/minuman yang “edible buat Muslims” waktu makan bareng setelah tahu sedikit banyak tentang Muslim dan Islam. Kesempatan ‘berdakwah’ juga kan? Katanya ‘Sampaikanlah walau satu ayat’.

gendies.com: Selama Anda melakukan traveling, apa Anda mengajak teman? Atau menggunakan jasa tour guide?

Mb Juwa: Yang paling sering saya main sendiri ke suatu tempat tapi di tempat itu ada temen yang saya tuju, entah untuk diinepin gratis, memandu sekalian ikut jalan-jalan, atau cuma ketemuan. Tapi memang sering sama temen akhirnya jalannya. Kalau jalan-jalan nyewa mobil juga ngajakin temen. Lebih murah semua-muanya karena dibagi bareng ongkosnya. Kalau sendiri bisa mahal banget. Pakai jasa tour cuma sekali pas ke Niagara Falls, itu pun janjian sama teman dari state yang berbeda. Maklum, saya kan dari Arizona, south west, jauh dari New York.

gendies.com: Bisakah Anda sedikit ceritakan tentang satu peristiwa paling berkesan saat melakukan traveling di sana?

cara mendapatakn beasiswa fullbright
Road trip Mb Juwa (Orange) di Arizona bersama teman Indonesia dan Malaysia

Mb Juwa: Banyak banget sebenernya; semuanya berkesan. Pinginnya saya ceritain semua. Makanya caption instagram saya panjang, karena selain suka baca and mendengarkan cerita, saya juga suka cerita. (Haha) Saya pernah dikasih diskon karena penjualnya pernah ke Indonesia, suka serta kangen Indonesia. Pernah dikenali oleh orang yang pernah ke Indonesia dari Batik yang saya pakai. Pernah diajak foto bareng sama bule, jadi gantian saya yang jadi turis/bule di sana. (Haha) Pernah juga ketemu orang Indonesia yang justru malah minta duit. Ini gak terduga dan bikin sedih. Karena orang-orang bule yang saya temui hampir semuanya baik, eh malah pas ketemu orang Indonesia begitu.

Pernah juga pas dari New York naik bis ke Chicago, bisnya mogok sampai 5 jam-an. Yang menakjubkan ga ada yang complain atau marah-marah. Ya mereka tahu lah resiko naik bis murah. Plus, pihak bis juga professional, mereka terus update perkembangan perbaikan bis, sampai akhirnya menunggu dikirimkannya bis baru. Tiket direfund. Saya bahkan dibolehkan ikut bis selanjutnya karena saya jadi ketinggalan bis yg dari Chicago ke Madison karena mogok itu. Intinya mereka bertanggung jawab.

Tapi satu yang sangat berkesan, bukan waktu traveling sih, justru waktu saya di rumah Tucson, Arizona. Pas awal-awal saya datang, saya sewa sepeda dan belanja karena memang butuh belanja makanan dan kebutuhan pokok lainnya. Berhubung saya g suka belanja, jadi belanjaan saya banyak, maksudnya sih biar gak bolak-balik. Tapi jadi berat, padahal dari tempat belanja ke rumah saya itu jauh banget. Tapi terus ada ibu-ibu yang nawarin nganter pake mobilnya. Saya antara takut dan butuh. Kalau diinget sekarang saya jadi merasa bersalah karena su’udzon dengan beliau, maklum, saya baru, berjilbab pula. Orang-orang mendoktrin kita bahwa orang Amrik itu benci/jahat sama kita, jadi ya sedikit cemas. Tapi ternyata Ibunya tulus, dibantuin bapak-bapak juga pas masukin sepeda sewaan ke mobilnya. Rasanya waktu itu saya pingin nangis (sebenernya sih udah berkaca-kaca, tapi pencitraan sok seterong gitu kan. (Haha), bener-benar terharu.

gendies.com: Dengan kesibukan Anda kuliah, bagaimana Anda bisa membagi waktu antara belajar dan menyalurkan hobi traveling Anda di sana?

Mb Juwa: Belajar kan waktu semester aktif, sementara traveling waktu break saja, biasanya setelah akhir semester, semacam pelampiasan dan reward setelah otak dipake mikir terus. Haha Waktu belajar ya belajar, waktu traveling ya traveling. Apalagi di sana break-nya lumayan, ada spring break, winter break, summer break, etc.

gendies.com: Traveling tidak hanya menghabiskan waktu dan energi tapi juga uang. Apa manfaat besar yang sebenarnya Anda dapat dari hobi Anda ini?

Mb Juwa: Seneng mungkin. Saya seneng melihat tempat baru, I love to observe different things, sekaligus mengagumi ciptaan Sang Maha mungkin ya, versi relijiusnya sih tadabbur alam. Atau mungkin karena dulu waktu sekolah sampai kuliah dan sekian waktu setelah kerja saya gak pernah jalan/travel karena gak punya uang. Jadi sekarang diusahakan nabung untuk jalan. Plus ada kesempatan juga, kenapa enggak?

Yang penting gak ngerepotin orang tua dan orang lain. Plus, semakin banyak yang dilihat, perbedaan dll, justru baik dan membuat saya semakin melihat diri sendiri untuk memperbaiki diri bukan melihat orang lain terus menghakimi. Lebih ke semakin mengerti aja dan menyadari bahwa masih banyak yang perlu dipelajari. Merasa kecil biar tidak arogan tapi juga jadi tidak minder karena bersyukur.

gendies.com: Ada tips untuk mereka yang juga suka traveling dan sedang menempuh studi di luar negeri?

Mb Juwa: Hmm, kalau bisa harus travel, karena dari situ bisa berinteraksi atau melihat/mengamati banyak interaksi. Hal-hal yang terjadi waktu traveling itu benar-benar tidak ternilai. Tapi ya jangan lupa, tujuan utamanya belajar. Jadi pinter-pinter ngatur fokus, waktu, dan keuangan aja. Nabung itu harus. Tapi uang tabungan juga jangan dihabiskan untuk travel aja. Sempatkan menabung untuk waktu paska studi, setelah pulang ke Indonesia, terutama bagi yang masih harus mencari kerja lagi. Dan kalau bisa jangan buang-buang uang untuk yang tidak perlu. Pinter-pinter berhemat lah.

Traveling jangan dadakan juga, karena kalau ndadak biasanya lebih mahal. Jadi kalender emang harus ditandai dari awal, semester berakhir kapan, mau mulai liburan kapan dan sampai kapan. Budget berapa, tempat yang pingin dikunjungi bagaimana. Banyak yang harus dipertimbangkan. Untuk nginep bisa pakai couchsurfing, hostel, atau airbnb, lebih murah. Tapi lebih enak kalau ada temen yang bisa menampung gratis. (Haha)

gendies.com: Dengan semua pengalaman yang sudah Anda peroleh, apa ada rencana untuk kembali melanjutkan studi di luar negeri? Atau rencana untuk solo traveling keliling dunia?

Mb Juwa: Kalau rencana belum pasti, kalau keinginan ada. Ya semoga suatu saat ada jalan ke sana. Travel bareng suami mungkin, nanti setelah menikah. (haha) Amin.

gendies.com: Terakhir, adakah pesan khusus untuk mereka yang sedang berjuang mendapatkan impian mereka?

Mb Juwa: Impian orang beda-beda ya. Saya travel karena itu menyenangkan buat saya. Orang lain belum tentu suka and that’s fine. Intinya ya fokus pada passionnya aja, nikmati, syukuri, jangan kebanyakan membanding-bandingkan dengan orang lain. Untuk memotivasi boleh, tapi kalau sampai iri dan down jangan.

Dan kunci lainnya adalah konsisten. Konsisten berbuat, konsisten berusaha, konsisten berdoa, konsisten minta dukungan orang-orang terdekat, orang tua, pasangan, dll. Dan yang paling penting konsisten bersyukur. InsyaAllah, kan Allah menambah nikmat pada orang yang bersyukur.

Adakah yang lebih indah dari pada menggeluti passion dan mengejar impian? Setiap orang memiliki keberuntungannya masing-masing. Setiap orang memiliki cerita dibalik setiap kebahagiaan dan pencapaian yang mereka miliki. Dan bersyukur adalah jalan paling mudah untuk mendapatkan kebahagiaan setelah sebuah perjuangan dan usaha yang maksimal. Seperti motto hidup mbak Juwa, “It is not about winning or losing; it is about trying and giving your bests!”.

Terima kasih Mb Juwa, semoga kisahnya bisa menginspirasi para pejuang mimpi lain di luar sana. Jika ingin mengenal lebih jauh tentang Dosen yang kini tinggal di kota Malang ini; bertanya lebih jauh mengenai tips atau cara mendapatkan beasiswa Fulbright atau mungkin tips-tips travelling, Anda bisa kunjungi blog-nya di sini.

Baca juga: Berburu Beasiswa Fulbright: Salah Satu Beasiswa Paling Bergengsi Dunia!