Tuesday , August 14 2018
Home / Edukasi / Hukuman Fisik Pada Anak: Masih Efektifkah?

Hukuman Fisik Pada Anak: Masih Efektifkah?

Efektifkah Memberi Hukuman Fisik pada Anak?

“Kenapa anak zaman semakin susah diatur sih?!!”

Mungkin sudah ratusan kali kita dengar omelan sejenis terlontar dari mulut para nenek yang mendapati cucunya melakukan sesuatu yang kelewat batas. Generasi tua boleh jadi terus mengerutkan kening melihat fenomena kenakalan remaja dewasa ini yang semakin menjadi-jadi. Akibatnya adalah pengkambinghitaman sistem pendidikan modern yang di mata mereka semakin melunak.

hukuman fisik pada anak
sumber: tipsanakbayi.com

Tidak adanya pemberian hukuman fisik pada anak dalam rangka mendisiplinkan anak menjadi target kritik para generasi tua. Akan tetapi, pertanyaan berikutnya adalah, adakah kekerasan fisik membuat seorang anak memahami kesalahannya? Apakah hal itu membuat mereka bersikap manis seterusnya?

 

Baca juga: Inilah Cara Paling Bijak dalam Merespon Perilaku Anak

“Pukulan tidak menghentikan saya berbuat nakal. Bahkan saya semakin berani melawan Ibu”, begitu komentar Christine, seorang ibu tiga anak saat ditanya perihal efektifitas hukuman fisik pada masa kanak-kanaknya, sebagaimana dikutip dari NSPCC.

“Setelah dihukum saya merasa takut dan trauma. Ketakutan ini seperti membuntuti saya ke manapun hingga saya jadi takut untuk bertindak, bahkan untuk hal-hal yang positif,” Lorraine, seorang presenter menguraikan pengalamannya di waktu kecil.

Dalam sebuah kumpulan proverbnya yang terkenal “Children Learnt What They Live”, seorang pakar pengasuhan anak pada usia dini, Dorothy Law Nolte menekankan sebuah pola pengasuhan positif yang populer dengan istilah “Positive Parenting”. Menurut Nolte anak-anak yang dibesarkan dengan permusuhan malah akan belajar berkelahi. Sedangkan sebaliknya, anak yang dibesarkan dengan kelembutan akan belajar percaya diri. Lebih jauh lagi, masih menurut Nolte, kasih sayang dan persahabatan dalam yang dicurahkan oleh orang tua akan membantu anak menemukan kasih dalam hidupnya.

Mengenai hal ini, memang sering terdapat kritik pedas yang dilontarkan oleh para penganut pola pendidikan konvensional. Peniadaan teknik pendisiplinan dengan kekerasan membuat generasi muda modern seolah tidak mampu melihat batasan etika dalam bertindak. Namun pakar pendidikan anak menekankan pola penanaman karakter pada anak demi melahirkan generasi berkarakter kuat yang santun melalui beberapa hal berikut:

Baca juga: 10 Cara Menjadi Orang Tua Hebat tanpa Hukuman Fisik

1. Memberi Pemahaman

Hal ini perlu disesuaikan dengan karakter anak dan juga usianya.

2. Memberi Pelatihan.

Setelah diberi pemahaman, anak perlu dilatih untuk menerapkan nilai-nilai. Contohnya : anak diajarkan untuk mengucapkan terima kasih setelah diberi sesuatu oleh orang lain, selanjutnya anak selalu diingatkan untuk mengucapkannya setiap kali ada yang memberikan sesuatu kepadanya.

3. Pembiasaan.

Setelah pemberian latihan yang dilakukan berulang-ulang, anak menjadi terbiasa untuk berkata atau berbuat seperti yang telah diajarkan oleh orangtuanya.

4. Karakter

Pada akhirnya, nilai-nilai yang telah ditanamkan akan menjadi karakter yang melekat dalam pribadi anak sampai ia dewasa kelak. (ana)

About Ana Zahida

Seorang perdana menteri rumah tangga yang lumayan hobi menulis, bekerja sampingan sebagai pengajar dan juga penerjemah paruh waktu, percaya bahwa Tuhan menganugerahkan manusia kehidupan dan alam raya untuk terus dipelajari dan jelajahi tiap relungnya. The universe is the best place to learn!

Check Also

guru super killer

Anak Diajar Guru Super Killer? Ini Solusinya!

Ketika Anak Diajar Guru Super Killer Setiap sekolah pasti memiliki koleksi guru yang dianggap super …