Wednesday, December 13, 2017

Kisah Inspiratif: Menjadi Ibu Ideal, Menjadi Pemakmur Dunia

Kisah Inspiratif dari seorang Calon Doktor bersama Empat Buah Hatinya

Wawancara bersama: Nuril Mufidah (Dosen Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

Menjadi ibu tak hanya menjadi seorang yang tinggal di rumah dan mengurus semua keperluan jasmani sang anak. Menjadi ibu juga menjadi seorang guru dan model yang akan pertama kali dicontoh oleh anak. Menjadi ibu juga berarti menjadi salah seorang penentu masa depan manusia-manusia baru, pemegang kendali masa depan bangsa dan dunia. Lalu, adakah tips khusus bagi seorang ibu agar anak menjadi pribadi yang baik? dan seperti apakah suka duka yang dihadapi ibu dalam merawat anak di rumah?

kisah inspiratif
Mb Nuril bersama suami dan keempat buah hati.

Berikut, hasil perbincangan gendies.com dengan seorang ibu muda yang memiliki empat orang anak hebat yang juga sibuk menjadi dosen di salah satu Universitas negeri di Malang. Ditengah kesibukannya mengurus keempat anaknya, wanita pecinta bakso ini ternyata juga sedang mempersiapkan promosi doktornya. Penasaran seperti apa kisah serunya bersama keempat buah hatinya?

gendies.com: Apa kesibukan Mbak Nuril saat ini?

Mbak Nuril: Lebih banyak menemani anak-anak. Sedikit mengajar dan menyiapkan promosi doktor.

gendies.com: Dengan kesibukan mbak sekarang apakah Mbak Nuril tidak kuwalahan mengurus ke-empat anak sendirian?

Mbak Nuril: Alhamdulillah saya menikmati dan senang. Usia anak yang berdekatan memudahkan untuk menyiapkan semua secara bersamaan dan anak-anak juga suka saling membantu jadi terasa menyenangkan

gendies.com: Apa anak-anak sudah sekolah? Kelas berapa?

Mbak Nuril: Iya, 2 orang yang sekolah. Masiu (Si sulung) kelas 1 MI dan Masifi (anak ke 2) kelas TK A. Saya memang tidak memasukkan anak-anak ke play group karena saya lebih senang anak-anak bermain dalam pengawasan saya sendiri di rumah.

gendies.com: Bagaimana cara Mbak Nuril mengawasi anak-anak ketika ditinggal bekerja?

Mbak Nuril: Saya mengambil semua jam malam; yaitu jam setengah 7 sampai 8 malam..anak-anak biasanya ikut ke kampus membawa bola, kertas dan mainan pilihan..mereka menunggu sambil bermain di lapangan atau lobi..terkadang juga aktivitas di masjid.

Ketika terpaksa harus ke kampus siang hari misalnya ada rapat atau kuliah maka saya meminta tolong Bu Sih (nama ibu yang biasa saya panggil untuk menunggu anak-anak..rumah beliau 5 menit jalan kaki dari perumahan kami)

gendies.com: Bagaimana peran suami dalam pengasuhan anak-anak di rumah?

Mbak Nuril: Suami membantu, seperti antar jemput sekolah..mengajak anak-anak bermain..menyuapi..memandikan atau mengganti popok. Semua kita kerjakan bersama; dalam artian siapa yang kosong berarti ambil peran. Meskipun saya lebih banyak porsinya karena suami di kantor mulai setengah 7 pagi sampai jam 5 sore

gendies.com: Mbak Nuril menggunakan jasa asisten rumah tangga atau Baby Sitter?

Mbak Nuril: Untuk menyetrika baju saya memakai jasa Bu Sih.. Untuk anak-anak saya lebih suka menangani sendiri dan anak-anak lebih nyaman dengan saya kecuali ada keperluan barulah saya menitipkan anak ke Bu Sih

gendies.com: Dengan 4 orang anak yang masih kecil, bagaimana cara Mbak Nuril meminimalisir rasa kecemburuan diantara anak?

Mbak Nuril: Saya kenali setiap karakter anak..ketika mulai mengusik adik atau membuat gara-gara itu biasanya anak lagi ingin diperhatikan, maka saya pakai jurus peluk berlama-lama atau berkali-kali sambil membisikkan “anak sholeh..Mimi (panggilan saya) saya sama Masiu/Masifi/Atis” biasanya langsung normal lagi dan senang.

gendies.com: Ada kisah yang paling berkesan dalam mengasuh keempat buah hati hebat mbak Nuril? Bisa dibagikan bersama kami?

Mbak Nuril: Ketika saya sendiri bersama anak-anak karena suami ke luar kota atau dinas..anak-anak tidak pernah rewel. Saat hari mulai gelap/ maghrib biasanya segera saya kunci pagar dan semua pintu karena suami tidak ada. Masiu sering bilang “Mimi jangan takut..Masiu akan jagain Mimi” biasanya adiknya langsung memeluk bersamaan dengan masnya “Masifi sayang Mimi..Mimi cantik kalau senyum”. Anak-anak sangat peka terhadap perubahan air muka saya 😀

gendies.com: Setiap orang tua pasti berharap agar anak-anaknya rukun dan saling menyayangi. Bagaimana cara Mbak Nuril menanamkan rasa saling menyayangi sesama saudara di usia anak-anak yang masih sangat belia ini?

Mbak Nuril: Usia anak-anak yang dekat jaraknya apalagi semua laki-laki (sementara Shamila tidak dihitung karena masih gendong saja, memungkinkan acara rebutan mainan, makanan atau perhatian. Saya selalu berusaha terus mengingatkan diri sendiri bahwa mereka masih “anak kecil” meskipun sudah mempunyai adik..tidak adil kalau dipaksa harus “mengerti”.

kisah inspiratif
Keluarga Gumintang

Jika terjadi konflik saya terbiasa untuk berdialog..misalnya mas kenapa adik menangis?setelah mas menceritakan kronologinya, ganti saya tanya “adik kenapa menangis?”kemudian adik bercerita..saya peluk bersama dan yang bersalah meminta maaf..karena kakak tidak selalu pihak yang salah. Hal ini membuat kakak tidak menjadi sasaran kesalahan dan adik tidak sedikit-sedikit mudah menangis

gendies.com: Saat anak menginjak usia sekolah, pengawasan kita sebagai orang tua tak bisa lagi seperti saat anak masih di rumah. Nah, bagaimana cara mbak Nuril agar anak tidak mudah ikut-ikutan kebiasaan teman-teman di sekolah yang (mungkin) tidak sesuai dengan kebiasaan anak di rumah. Misalkan, masalah jajan sembarangan.

Mbak Nuril: Iya benar..sekolah mulai mempengaruhi Masiu (kelas 1 MI). untuk meminimalisir jajan sembarangan; membawa bekal dan berlatih menjual (biasanya dia membawa 3 es lilin yang terbuat dari susu coklat, vanilla dan kacang hijau yang kita buat bersama) bisa menjadi solusi

gendies.com: Menurut Mbak Nuril, seperti apakah ibu yang ideal itu?

Mbak Nuril: Ibu ideal itu yang mengenalkan dan mengarahkan anak menjadi manusia yang manusiawi dan memahami tugasnya sebagai hamba sekaligus pemakmur dunia.

gendies.com: Nah, ini yang sering jadi bahasan para ibu. Menurut mbak, pentingkah “Me Time” bagi seorang ibu? Bisa dijelaskan?

Mbak Nuril: Me time bagi saya itu setiap saat dimana saja tidak harus waktu khusus atau tempat khusus..karena saya senang menemani anak-anak jadi selalu senang. Untuk variasi saya terbiasa makan berdua dengan suami..facial berdua (bergantian saya memijat dan membersihkan wajah suami kemudian suami yang memijat dan membersihkan muka saya)..nonton berdua ditemani teh hangat dan nasi goreng atau mie buatan suami ketika anak-anak sudah tidur

gendies.com: Pasti ada kalanya saat mengasuh anak di rumah, mbak Nuril merasa emosi atau ingin marah. Apa yang biasa Mbak Nuril lakukan di saat-saat seperti itu?

Mbak Nuril: Iya benar..biasanya Ishfi yang mengingatkan “Mimi tau gak hadis menahan marah?” itu kode dari dia..saya segera minta maaf karena sudah marah. Saya dan anak-anak punya kesepakatan untuk saling mengingatkan kalau ada yang marah

gendies.com: Yang terakhir, ada tips untuk para ibu lain yang juga sedang seru-serunya mengasuh anak-anak yang masih kecil di luar sana? 

Mbak Nuril: Menjadi ibu itu anugerah..dinikmati masa menanam aset ini, anak adalah titipan bukan hasil pahatan binaan kita sendiri maka berdoa itu kuncinya..selamat menjadi ibu.

Bahagia itulah kesuksesan, terdengar sederhana namun nyatanya motto hidup ibu muda yang satu ini memang benar adanya. Menjadi ibu di jaman ini mungkin lebih menantang; penuh tantangan dan godaan. Tantangan menyiapkan anak di era yang sangat dinamis. Belum lagi dilema terhadap pilihan menjadi seseorang dengan karir cemerlang atau ibu rumah tangga tanpa gelar dan embel-embel status sosial. Namun, ibu muda ini bisa mengimbangkan keduanya, dan tetap menjadikan kebahagiaannya sebagai ukuran kesuksesan. Kebahagiaan menjadi pendidik, kebahagiaannya menjadi seorang ibu yang tak lepas dari segala pernik dan drama di rumah. Lalu, apa arti kesuksesan menurut Anda, ibu?