Wednesday, December 13, 2017

Memiliki Banyak Anak: Ribet Ribet Hepi, Benarkah?

Tak ada Ibu yang Sempurna, Tapi Anda bisa menjadi Ibu Terbaik bagi Keluarga Anda

Wawancara bersama Mawar Firdausi (Seorang Penerjemah, istri dan ibu dari tiga orang anak)

Merawat seorang anak bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Apalagi jika merawat 2 hingga 3 anak sendiri. Kebanyakan orang mungkin akan mengatakan bahwa itu akan sangat merepotkan. Tapi beda halnya dengan Mawar Firdausi. Seorang penerjemah yang juga ibu dari seorang putra, Muhammad Faruq Mokhtar Rifa’i (4,5 tahun), dan dua orang Putri, Filza Kamila Azizah (2 tahun, 10 bulan) dan Abidah Kamila Faiza (14 bulan). Bersama suami tercinta, mb Mawar lebih memilih untuk merawat sendiri ketiganya. Baginya, selain manajemen waktu, energi, dan emosi yang baik, peran suami tak bisa terlepas dari kesibukannya mengurus ketiga buah hatinya tersebut. 

ibu
Mbak Mawar bersama ketiga buah hati

Ketika ditanya tentang kerepotan mengurus ketiga anaknya, ibu muda yang kini sedang menikmati masa kehamilannya yang keempat ini menjawab dengan simpel dan membuat penasaran “ribet ribet hepi…” seraya tertawa. Mau tau obrolan lengkap gendies.com bersama ibu muda asli Malang yang punya hobi menyanyi dan menjahit ini? Simak selengkapnya berikut ini:

gendies.com: Apa kesibukan mbak Mawar saat ini?

Mbak Mawar: Jadi ibu rumah tangga, mengurus anak dan suami, jd pengelola keuangan kantor dan rumah tangga, kadang menerjemah, dan kesibukan khas ibu-ibu lainnya; seperti PKK, pengajian…

gendies.com: Sudah berapa tahun usia pernikahan mbak Mawar?

Mbak Mawar: 6 tahun

gendies.com: Dengan usia pernikahan mbak Mawar tsb, mbak mawar sudah dikaruniai 3 anak, akan 4. Memang direncanakan demikian atau bagaimana?

Mbak Mawar: Direncanakan sama Allah (hehe).

gendies.com: Apakah pepatah banyak anak banyak rezeki berlaku bagi mbak Mawar dan suami?

Mbak Mawar: Berlaku banget.. Setiap hamil, kami selalu dapat proyek besar yang alhamdulillah bertahan hingga sekarang. So, ga usah kuatir punya anak banyak.

gendies.com: Mengurus anak-anak yg masih kecil pasti ribet banget. Apa pendapat mbak?

Mbak Mawar: Ribet ribet hepi… Ada ups and downs pastinya, cape sudah jelas, tapi melihat anak-anak tumbuh sehat dan bahagia, sesuai harapan… capeknya jadi ngga terasa.

gendies.com: Dengan 3 anak yang masih kecil, pasti mbak Mawar sangat sibuk. Bagaimana mbak Mawar membagi waktu dg pekerjaan?

Mbak Mawar: Meski ada pekerjaan terjemahan, keluarga tetap prioritas utama. Jadi, pekerjaan dilakukan saat anak-anak sekolah atau saat anak-anak sudah tertidur. Kalau deadline mendesak, saya bagi tugas dengan suami. Gantian gitu. Pas suami kerja saya jaga anak, pas saya kerja ya suami yang temanin anak. Itu pun tidak 100%. Saat kerja pun, kalau anak-anak butuh sesuatu atau sedang ingin ditemani ya kami temani dulu baru balik kerja lagi.

gendies.com: Bagaimana dengan pekerjaan rumah? Apakah mbak Mawar menggunakan jasa asisten rumah tangga?

ibu
Bersama suami dan para staff

Mbak Mawar: Sekarang iya, karenan kondisi saya hamil anak ke-4 dan rasanya badan ini sudah menua (haha). Bawaannya lemes terus. Tapi itupun ART pulang bukan yang menginap. Dan karena rumah kami besar, saya tak tega si mbak mengerjakan semua sendiri. Jadi ada beberapa pekerjaan yang kami tangani sendiri, misalnya cuci baju, memasak, dan bersih-bersih kamar mandi. Pegang anak tetap kami, pastinya. Kami tidak pernah mendelegasikan urusan anak ke ART kecuali kalau sangat sangat sangat terpaksa. Kemarin waktu sebelum hamil anak ke-4 kami ngga pakai ART. Alhamdulillah fine-fine aja, justru malah anak-anak tumbuh kepeduliannya sama kerjaan rumah tangga karena lihat dan membantu ayah bundanya sibuk, (hehe). Saya bahkan memasak untuk 16 orang termasuk 12 karyawan.

gendies.com: Bagaimana peran suami dalam merawat anak anak?

Mbak Mawar: Suami sangat luar biasa memegang perannya. Tidak hanya ada, tapi juga terlibat dalam pengasuhan anak-anak. Kami terbiasa berbagi tugas, misalnya, kalau pagi, suami memandikan anak-anak sementara saya memasak sarapan. Intinya, kami menyadari peran masing-masing. Kami juga menyadari kalau anak-anak ini adalah anak bersama (hehe), jadi ngasuhnya juga harus sama-sama.

gendies.com: Nah, soal manajemen emosi. Setiap hari sibuk dengan anak-anak pasti tak jarang menemui banyak hal hal tak terduga yang bisa mematik emosi. Apa yg biasa mbak Mawar lakukan ketika mulai terpancing emosi?

Mbak Mawar: Kalau emosi, biasanya saya ngomel-ngomel. Manusiawi, ya. Tapi saya berusaha melakukannya di dalam kamar, nangis, atau nyungsep di pelukan suami. Pelukan suami sangat ampuh bikin saya adem. Itu, plus ambil wudhu dan sholat. Atau istighfar banyak-banyak. Kalau sedang cape ngomel, saya alihkan perhatian dan energi dengan bersih-bersih. Lumayan kan, emosi tersalurkan, rumah jadi kinclong (hehe).

gendies.com: Menurut mbak Mawar, apakah me time bagi seorang ibu itu penting? Seperti apa me time bagi mb ak Mawar?

ibu
Bersama suami dan ketiga buah hati

Mbak Mawar: Penting banget, karena kita butuh “aktualisasi diri”. Saat kita jadi diri sendiri, bukan istri, bukan ibu. Biasanya me time saya adalah pijat atau panggil salon ke rumah. Dulu sempat sih me-time dengan menyalurkan hobi saya menjahit. Tapi sekarang makin ngga ada waktu, jadi saya mengalihkan me-time jadi we-time. Karena berdua dengan suami itu lebih oke dan lebih ampuh nge-charge emosi dan kebahagiaan dibanding sendirian aja. Entah nonton, ngobrol berdua sambil minum coklat, atau ngedate waktu anak-anak sekolah.

gendies.com: Masalah pendidikan anak, apakah anak-anak sekolah?

Mbak Mawar: Ya, Faruq sekarang TK A dan Filza playgroup.

gendies.com: Apa kriteria sekolah yg paling penting menurut mbak Mawar?

Mbak Mawar: Yang paling penting adalah se-visi dengan visi keluarga kami: mendidik anak-anak shalih. Jadi sekolah ga asal mahal, bergengsi, dll., tapi harus benar-benar mengutamakan penanaman akhlaqul karimah dan dasar-dasar keagamaan yang baik. Gurunya juga harus yang kompeten dan memahami banget psikologi anak-anak. Alhamdulillah kami sudah menemukannya.

gendies.com: Bagaimana cara mbak Mawar memperlakukan anak-anak agar tak ada yg merasa cemburu?

Mbak Mawar: Caranya adalah dengan selalu bersama-sama melakukan segala hal. Selain itu, kita harus 100% sama anak. Punya anak banyak itu bukan berarti membagi cinta dan perhatian jadi masing-masing hanya sekian persen, tapi 100% untuk tiap anak. Pas sama Filza ya kita perhatiin Filza 100%, sama Faruq dan Faiza pun begitu. Kalo pas bareng-bareng ya kita perhatikan semua bareng-bareng. Oiya satu lagi, ditanamkan kasih sayang antar saudara. Sejak ketahuan hamil, saya bilang kalau mereka mau punya adik. Saya tunjukkan video bayi, perkembangan bayi dalam perut, dll. Mereka juga sangat excited. Faiza pun, skrg happy banget dan sering elus-elus perut saya meski kehamilan saya masih kecil banget. Waktu sudah lahir, saya menghindari ucapan “sana dulu, bunda mau nenenin adik”, atau “sama ayah aja ya, bunda mau gantiin adik dulu”, karena itu akan menumbuhkan kecemburuan. Saya usahakan melibatkan kakak untuk merawat dan menjaga adik. Selain mengurangi kesenjangan, saya juga mendidik “asisten” yang pada akhirnya nanti akan membantu meringankan pekerjaan saya menjaga si kecil. Sekarang, Faruq (4,5 th) sudah bisa diberi tanggung jawab jaga Faiza, gendong Faiza menjauh dari bahaya (Faiza sukanya main di teras dan makan batu). Filza bisa makein baju adiknya, ngeloni (menemani tidur) adik, bahkan pernah tantrum cuma karena pengen nyelimuti adiknya tapi adiknya ga mau. Alhamdulillah ini membantu menumbuhkan kasih sayang di antara mereka dan mengurangi kecemburuan.

gendies.com: Setiap anak memillikki keunikannya masing-masing. Bagaimana cara mbak Mawar menyikapi hal itu?

Mbak Mawar: Setiap anak ditangani dengan cara yang berbeda-beda sesuai karakter. Misalnya, menghadapi Faruq harus tegas. Kalau kurang tegas nanti dia menganggap kita cuma bercanda, bahkan malah melakukan yang dilarang, hehehe. Jadi harus tegas, suara harus keras juga, reward and punishment harus jelas. Kalau Filza cenderung lembuuuut sekali hatinya dan gampang ngambek. Jadi kami harus bisa mengambil hatinya. Harus dirayuuu, banyak dipuji, kalau disuruh harus “anak cantik, tolong ambilkan xxx ya” gitu. Filza nggak bisa dikerasin kaya Faruq, bakal nangis gulung-gulung dia. Inilah seninya punya anak banyak. Setiap anak penanganannya beda-beda, dan harus trial and error dulu pada tiap anak sampai ketemu cara parenting yang pas. Tapi yang harus digarisbawahi adalah, meski penanganannya beda, harus ada prinsip dan aturan yang sama untuk semua. Penyampaian dan penerapan boleh beda, tapi inti tetap sama.

gendies.com: Apakah anak-anak memiliki waktu belajar khusus di rumah?

Mbak Mawar: Ngga ada, karena kami bermain sambil belajar sepanjang hari. Sambil main ditanamkan nilai-nilai, sambil jalan-jalan ditanamkan pengetahuan baru, sambil cerita diajarin tentang akhlaq, dll.

gendies.com: Saat hamil seperti ini, bagaimana mbak Mawar membagi waktu dan energi dalam mengurus anak anak dan menjaga kesehatan yg pastinya butuh waktu istirahat lebih banyak?

Mbak Mawar: Kuncinya adalah kerjasama. Waktu saya cape, saya titip anak-anak ke suami. Memang butuh manajemen waktu dan energi yang baik biar semua bisa dijalani dengan baik. Misalnya, waktu anak tidur kita juga tidur, minum suplemen. Alhamdulillah ada ART yang membantu meringankan tugas cuci piring dan setrika yang butuh banyak tenaga. Kalau cuci baju kan tetap saya nih, biasanya saya cuci sesempatnya. Kalau sedang sehat ya cuci baju tiap hari, kalau lemes ya dua-tiga hari sekali. Cucian menumpuk ngga papa, daripada saya memforsir tenaga tapi akhirnya keteteran untuk kerjaan lain. Kita yang tahu kapasitas tubuh kita, kan 🙂

gendies.com: Nah, ada tips atau pesan untuk ibu lain?

Mbak Mawar: Apa yaaa.. Every mom has her own struggle, sih, jadi saya ngga bisa kasih saran apa-apa. Berusaha aja tutup mata dan telinga dari konflik-konflik ASI vs Sufor, SAHM (Stay at Home Mom) vs WM (Working Mom), normal vs sc, de el el de el el. Saya yakin semua ibu pasti ingin yang terbaik untuk suami dan anaknya, dan semua punya pertimbangan sendiri-sendiri. Stop judging and blaming yourself kalau melihat ada ibu yang tampak sempurna, karena tidak ada ibu yang sempurna. Terus belajar, belajar, dan belajar untuk jadi yang terbaik. Mungkin tak sempurna, tapi jadilah yang terbaik untuk keluarga kalian sendiri.

Sebuah pepatah mengatakan, tawa anak-anak adalah lentera dalam sebuah rumah. Mungkin pepatah ini bisa menggambarkan betapa bahagia dan terangnya suasana rumah dengan adanya anak-anak. Kebahagiaan anak-anak bersama orang tua yang kompak mungkin bisa menjadi salah satu langkah paling dasar dalam upaya membesarkan generasi-generasi bangsa yang kuat dan hebat. 

Salam hebat untuk semua Ibu, Anda yang terbaik!

Baca juga: Berburu Beasiswa Full Bright, Salah Satu Beasiswa Paling Bergengsi di Dunia!