Thursday, December 14, 2017

Manakah yang Sebaiknya Didahulukan, Aqiqah atau Qurban?

Aqiqah atau Qurban Dulu Ya…?

Ketika seorang bayi terlahir ke dunia, orang tua manapun kebanyakan akan menyambutnya dengan suka cita dan menghujaninya dengan kasih sayang dan doa-doa. Islam mengatur penyambutan seorang calon generasi penerus ini dengan berbagai sunnah sebagaimana terdapat dalam hadis-hadis Nabi Muhammad Saw.

qiqah atau kurban
sumber: flickr.com

Salah satu sunnah yang dilaksanakan dalam rangka menyambut kelahiran seorang bayi adalah aqiqah. Hal ini lebih dianjurkan lagi untuk dilakukan pada hari ketujuh kelahirannya. Namun pertanyaannya, bilamana orang tua sedang tidak dianugerahi kelapangan rizki untuk melaksanakan sunnah aqiqah pada hari ketujuh kelahiran bayi dan hal ini belum juga dilaksanakan hingga orang tua meninggal, apakah sang anak harus mendahulukan aqiqah atau qurban?

Pada dasarnya aqiqah merupakan hak seorang anak atas orang tuanya, artinya anjuran untuk menyembelih hewan aqiqah sangat ditekankan kepada orang tua bayi yang diberi kelapangan rizki untuk sekedar berbagi dalam rangka menyongsong kelahiran anaknya.

Hal ini sesuai sabda Rasulullah saw: مَعَ الغُلاَمِ عَقِيقَةٌ Artinya: aqiqah menyertai lahirnya seorang bayi (HR. Bukhari). Para ulama memberi kelonggaran pelaksanaan aqiqah oleh orang tua hingga si bayi tumbuh sampai dengan baligh.

Aqiqah atau Qurban setelah Bayi Dewasa

Setelah si bayi tumbuh dewasa, anjuran aqiqah tidak lagi dibebankan kepada orang tua melainkan diserahkan kepada sang anak untuk melaksanakan sendiri atau meninggalkannya. Dalam hal ini tentunya melaksanakan aqiqah sendiri lebih baik dari pada tidak melaksanakanya. Lalu, terkait pertanyaan sebelumnya, manakah yang sebaiknya didahulukan antara qurban dan aqiqah?

Jawabannya tentu tergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Apabila mendekati hari raya Idul Adha seperti sekarang ini, maka mendahulukan qurban adalah lebih baik dari pada malaksanakan aqiqah. Ada baiknya pula apabila kita menginginkan untuk melaksanakan keduanya secara sekaligus (qurban dan aqiqah) pada momen Idul Adha. Hal ini sesuai dengan pendapat Imam Ramli yang membolehkan dua niat dalam menyembelih seekor hewan, yakni niat qurban dan aqiqah sekaligus. Al-‘allamah Ar-Ramli mengatakan bahwa apabila seseorang berniat dengan satu kambing yang disembelih untuk kurban dan aqiqah, maka kedua-duanya dapat terealisasi.

Konsekuensi yang mungkin kotradiktif dari pendapat imam Ramli ini adalah dalam pembagian dagingnya, mengingat daging qurban lebih afdhal dibagikan dalam kondisi masih mentah, sementara aqiqah dibagikan dalam kondisi siap saji. Hal ini tentunya tidak perlu dipermasalahkan karena cara pembagian tersebut bukanlah termasuk hal yang subtantif. Kedua cara pembagian daging tersebut adalah demi meraih keutamaan, bukan menyangkut keabsahan ibadah.