Monday, January 22, 2018

Tinggal di Luar Negeri: Susah Senang dan Berbagai Cerita Unik

Tinggal di Luar Negeri ternyata Membuat Saya menjadi lebih mencintai tanah air, budaya kita…

Wawancara bersama Ibu D Yuli Soeratmo Bower

tinggal di luar negeri
Menikmati udara -22 dercel

Beberapa waktu yang lalu, gendies.com berkesempatan melakukan wawancara dengan salah satu wanita asli Indonesia yang kini tinggal di Grand Manan, Kanada; Ibu D Yuliati Soeratmo Bower. Wanita asli Lumajang, Jawa Timur ini adalah seorang perajin dan penerjemah yang sudah lebih dari lima tahun meninggalkan Indonesia untuk mendampingi suaminya. Lulusan Fakultas Teknik Pertanian Universitas Brawijaya yang suka makan Nasi Goreng dan Pecel ini akan berbagi kisah tentang susah senangnya tinggal di Luar Negeri; serta tips-tips menarik untuk Anda yang mungkin berencana atau akan segera tinggal di luar negeri. 

gendies.com: Halo, Ibu Yuli, apa kabar?

Ibu Yuli: Baik, terima kasih.

gendies.com: Jadi sejak kapan Ibu tinggal di luar negeri?

Ibu Yuli: Sejak tahun 2011.

gendies.com: Satu negara atau ada beberapa negara? Di mana saja itu?

Ibu Yuli: Sabah (Malaysia) dan Kanada.

gendies.com: Dalam rangka apa ibu tinggal di sana?

Ibu Yuli: Mengikuti suami.

gendies.com: Negara mana yang menurut Ibu paling menyenangkan?

Ibu Yuli: Dua-duanya suka dan sama-sama menyenangkan dari sisi yang berbeda.

gendies.com: Ngomong-ngomong, musim apa ya sekarang di Kanada?

Ibu Yuli: Saat ini sudah seminggu masuk musim gugur jadi mulai dingin.

gendies.com: Bisakah Ibu sedikit ceritakan tentang pengalaman paling berkesan saat awal-awal tinggal di luar negeri?

Ibu Yuli: Untuk di Malaysia (Sabah) kesan pertamanya adalah saya merasa aman, kita bisa bepergian dengan kendaraan pribadi larut malam/dini hari melewati jalanan sepi di hutan-hutan tapi alhamdulillah belum ada kejadian buruk dan tidak pernah mendengar ada kejadian buruk. Kalau di Kanada yang paling berkesan saat musim salju, aneh buat saya yang belum pernah melihat dan merasakan musim salju.

Kesan pertama waktu sampai di sana adalah, silau man! Mataharinya nggak tepat diatas kepala, tapi bergeser di selatan dari ufuk timur ke barat, duh gimana njelasinnya….pokoknya nggak ada Matahari yang namanya di atas ubun-ubun… Jadi katrok karena posisi menyetir (saya nggak bisa menyetir) ada di sebelah kiri, dengan demikian posisi kendaraan di jalan juga nggak sama dengan di Indonesia, sempat bingung kalua lagi bersepeda atau jalan kaki, selalu salah posisi!

Di Kanada, terutama provinsi tempat saya tinggal, ramah banget dan sopan! Setiap ketemu orang, meski nggak kenal, mereka selalu tersenyum atau sekedar bilang hi, hello, nice day dll, Orang sana, mau nyalip waktu jalan, atau pas mau milih-milih barang di etalase selalu bilang excuse me. Jadi bertanya-tanya, budaya orang timur yang sopan itu sebenare milik siapa ya…?

gendies.com: Apa kendala paling menantang saat beradaptasi dengan lingkungan di sana?

tinggal di luar negeri
Pengalaman pertama berseluncur menggunakan Crazy Carpet

Ibu Yuli: Kalau di Kanada, yang paling menantang ya suhunya. Waktu di Indonesia, mau suhu turun dikit ke 24 dercel sudah bersembunyi dibalik selimut, pas datang di Kanada waktu itu pas cuaca sangat bagus menurut orang lokal, cerah dan hangat, padahal waktu itu suhunya 21 dercel, dan saya merasa kedinginan banget. Dan paling parah waktu musim dingin suhu jatuh sampai -22 dercel. Kalau di banding Amerika, musim dinginnya lebih lama, dan lebih dingin. Waktu di Malaysia, panas banget.

gendies.com: Apakah Anda sebagai orang Indonesia memiliki kendala khusus ketika masuk ke dalam komunitas warga baru di sana?

Ibu Yuli: Kalau di Malaysia pas di Tenom ya setiap kali saya berkenalan dan bilang dari Indonesia, kebanyakan mengira saya PRT. Mungkin karena saya dandanannya nggak kayak artis kali ya hahaha. PRT pekerjaan mulia, tetapi kesan agak sedikit negatif. Mungkin karena kebanyakan di orang Indonesia (Timur) di Tenom bekerja sebagai PRT. Lain halnya waktu pindah di Tawau yang isinya banyak sekali orang Indonesia (Jawa/Bugis), mereka tidak mengira saya pembantu, mungkin karena mayoritas di sana adalah orang Indonesia dan kebetulan orang-orang jawa/bugis di sana selalu punya bisnis sendiri (warung/toko kelontong dll). Tapi secara umum di Malaysia tidak ada kendala berarti, cukup mudah karena masih bisa berkomunikasi, tergantung Malaysia sebelah mana, kalau di kantong-kantong orang Indonesia masih enak, kalau di Semenanjung agak belepotan gak begitu mengerti (bahasanya).

Untuk di Kanada kebetulan provinsi tempat saya tinggal terkenal sebagai provinsi paling ramah dan di desa tempat saya tinggal terkenal paling ramah seprovinsi, nah lo, beruntung sekali kan. Mereka ramah, welcome banget, nggak membedakan karena kulit atau agama saya.

gendies.com: Seberapa besar peran suami dalam proses adaptasi di tempat baru?

Ibu Yuli: Cukup besar dalam memberikan petunjuk awal, seperti memberi tahu beberapa cara pengucapan local yang berbeda dengan dialek Bahasa inggris yang saya pelajari (American). Karena di Kanada meski lebih mirip American tapi pengucapan dan istilah mirip British atau bahkan nggak mirip keduanya. Suami juga benyak memberi tahu tentantg jenis keperluan pakaian dll.

gendies.com: Jadi, seperti apa sih Indonesia di mata orang-orang di negara-negara yang pernah ibu tinggali?

Ibu Yuli: Kebanyakan mereka belum pernah ketemu orang Indonesia, lumayan banyak yang tahu Indonesia itu sebelah mana meski nggak begitu jelas. Saya sering di kira orang Filipina. Yang agak tahu tentang Indonesia/SE Asia biasanya bilang: ohh negara yang selalu musim panas yah sepanjang tahun.

gendies.com: Nah, ini yang paling menarik, banyak orang Indonesia bilang kalau tinggal di luar negeri itu menyenangkan dan enak. Apa benar demikian? Bisa sedikit dijelaskan?

tinggal di luar negeri
Hongkong Airport: Dalam perjalanan kembali ke Kanada

Ibu Yuli: Seenak-enaknya tinggal di LN masih enak tinggal di dalam negeri kok. Karena di LN harus pandai beradaptasi (budaya/suhu/makanan) kalau nggak pasti susah. Pertahankan budaya sendiri dengan banyak beradaptasi dan menghormati budaya lokal. Nggak bisa memaksakan budaya kita.

Trik yang saya pakai, pertahankan budaya kita yang baik dan sesuai/saling melengkapi dengan budaya lokal, ambil budaya lokal yang baik supaya cepat beradaptasi. Harus bisa menempatkan diri dan selalu ada keinginan menjaga nama Indonesia supaya terkesan baik. Tinggal di LN (kecuali kalau milyuner yah) harus bisa mandiri dan bekerja keras. Kita di nilai dengan apa yang kita kerjakan.

gendies.com: Ketika tinggal di negeri yang jauh dari Indonesia seperti saat ini, apa yang sering bikin kangen untuk pulang ke Indonesia?

Ibu Yuli: Kangen keluarga di Indonesia terutama Ibu, rindu nongkrong sore-sore nunggu tukang bakso, kangen banyak makanan Indonesia

gendies.com: Kalau sudah kangen begitu, biasanya Ibu mengobatinya dengan cara apa?

Ibu Yuli: Kalau kangen Ibu dan keluarga biasanya ya pake media sosial atau video chat, kalau kangen makanan biasanya kalau nemu bahan untuk bikin masakan Indonesia ya langsung masak, atau kadang cuman melototin gambar/video makanan Indonesia hihihihi. Kangen teman, ya tinggal buka fesbuk, WA dll gitu.

gendies.com: Pepatah Indonesia bilang, Lain ladang lain belalang, Lain lubuk lain pula ikannya. Nah, menurut Ibu Yuli, apa hal terpenting yang perlu kita lakukan atau miliki agar kita bisa beradaptasi dengan mudah di lingkungan baru, khususnya ketika kita tinggal di negeri baru yang pasti sangat berbeda dari negeri asal kita?

Ibu Yuli: Seperti yang saya bilang di atas tadi, junjung dan hormati budaya lokal, belajar budaya mereka yang baik, yang jelek dan nggak cocok dengan kita pribadi ya nggak usah diambil, tunjukkan budaya kita yang baik dengan berperilaku yang baik, jangan sombong dan berfikir budaya kita lebih baik dari budaya lokal, sedapat mungkin selalu bersikap baik, tidak sok-sokan menonjolkan budaya kita. Pada akhirnya mereka malah akan mengasosiasikan perilaku baik kita dengan label kita sebagai orang Indonesia atau Muslim atau Jawa, atau apalah itu. Dan pastinya mau bekerja keras dan mandiri.

gendies.com: Setelah bertahun-tahun hidup di luar negeri adakah hal baru yang ibu pelajari/dapatkan (tentang hidup) yang belum pernah ibu dapatkan selama hidup di Indonesia?

tinggal di luar negeri
Untuk Rumah baru di negeri baru

Ibu Yuli: Saya menjadi lebih mencintai tanah air, budaya kita. Entah kenapa, jadi bisa melihat kebaikan bangsa sendiri di antara banyak kelemahannya. Pastinya jadi lebih bisa melihat manusia bukan karena stereotip. Semua manusia jadi kelihatan sama saja. Saya berkesempatan mengenal orang-orang dari berbagai latar belakang agama (dari yang nggak relijius sapai yang relijius), atau tidak beragama, orientasi seksual yang berbeda (di Indonesia sepertinya LGBT lagi jadi momok besar ya) dll. Pada akhirnya semua sama saja, mereka dan kita semua hanya orang-orang yang berusaha hidup, bekerja, berkeluarga, dan survive. Itu saja. Embel-embel lainnya jadi nggak berarti lagi buat saya.

gendies.com: Mungkin ada tips yang bisa Ibu bagikan untuk mereka yang mungkin akan memutuskan tinggal di luar negeri dalam waktu yang lama?

Ibu Yuli: Tipsnya, siapkan mental dan fisik. Jangan terbuai iming-iming atau khayalan kalau tinggal di luar negeri itu enak atau hebat. Siap nangis kalau lagi kangen, kecuali kalau punya pesawat pribadi atau milyuner.

gendies.com: Yang paling akhir: Jadi, menurut Ibu Yuli, mana yang lebih enak, hidup di negeri sendiri, Indonesia, atau di negeri orang?

Ibu Yuli: Terus terang sampai saat ini saya masih belum bisa memilih mana yang lebih enak, di LN atau di Indo. Banyak hal yang saya rindukan dari Indonesia, banyak hal baru yang saya suka di Malaysia/Kanada. Tapi saya masih merasa hidup di Indonesia itu lebih mudah.

gendies.com: Terima kasih, Ibu Yuli. Semoga informasi dan kisah Anda bisa menginspirasi banyak orang. Bahagia dan sukses selalu untuk Ibu Yuli dan keluarga di sana.

Ibu Yuli: Sama-sama, Sukses selalu juga untuk Anda dan Gendies!

Tinggal di luar negeri ternyata tidak selalu tentang tinggal di tempat yang indah dan sistem yang bagus seperti yang sering kita lihat di TV. Tinggal di luar negeri juga berarti sebuah perjuangan mengalahkan rindu keluarga dan menyikapi perbedaan yang pasti ada. Keramahan dan kebaikan terhadap orang lain ternyata memang selalu diperlukan di mana saja, saling menghargai dan menghormati tetap menjadi yang utama. 

Jika Anda ingin mengenal lebih jauh tentang Ibu Yuli, Anda juga bisa mengunjungi blognya di sini.